Jangan Lepaskan Kendalinya

Jangan Lepaskan Kendalinya

Oleh: Muhammad Nursani

Tak ada salahnya, kita urai kembali kenangan dengan bulan Ramadhan. Ini penting, ketika sebagian kita mungkin mampu melakukan shalat malam hampir setiap pergiliran hari. Mampu bangun diwaktu sahur menyongsong fajar. Ketika diantara kita ternyata, bisa menyempatkan diri shalat berjamaah dimasjid, lebih banyak ketimbang dibulan-bulan sebelumnya. mampu lebih memperhatikan masalah keakhiratan, dan hadir di majelis dzikir. Mampu berinfaq dan bersedekah lebih banyak. Mampu lebih banyak berdzikir dan membaca Al-Qur'an. Mampu memelihara lidah, memelihara nafsu, memelihara diri dari dosa.

Benarkah demikian saudaraku?

Bagaimana dengan kita? Atau mungkin memang, kita telah berusaha mengisi Ramadhan dengan amal-amal kita. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari dzikir kita. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki, atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Qur'an, menyebut Asma Allah, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Telinga kita, mata kita lebih banyak digunakan dalam kerangka yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Seluruh anggota badan lebih cepan memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Allah SWT. Meski ketika itu kita berada dibulan penuh rahmat dan maghfirah?

Saudaraku,
Bagaimanapun sekarang bulan penuh rahmat dan ampunan itu telah lewat. Bulan turunnya Al-Qur'an yang penuh barakah dan ampunan itu telah lewat. Bulan turunnya Al-Qur'an yang penuh barakah dan limpahan pahala itu telah pergi. Meninggalkan kita disini, memulai hari demi hari, sendiri. Semoga Allah senantiasa menghimpun kita dalam kasih sayang-Nya. Jangan tinggalkan rutinitas ibadah yang pernah kita lakukan di bulan Ramadhan. Sebab, perbedaan antara seorang yang shaadiq (benar) dengan orang yang kaadzib (bohong) menurut Imam Athaillah dalam kitab Al-Hikam, adalah "Apabila engkau ingin mengetahui perbedaan antara shaadiq dengan yang kaadzib, maka lihatlah ciri-cirinya. Ciri orang yang Shaadiq adalah ia beramal terus menerus karena Allah dalam berbagai situasi dan kondisi. Sementara orang yang kaadzib adalah beramal satu atau dua hari , lalu jika berduyun-duyun orang datang menyambutnya maka ia teruskan amalnya. Tapi jika tidak, iapun meninggalkan amalnya."

Saudaraku,
Mari syukuri limpahan pertolongan dan bantuan Allah SWT kepada kita hingga saat ini. Kita berusaha memiliki bekal mengendalikan nafsu makan dan minum selama satu bulan. Tujuannya tentu agar kita siap hidup dalam keadaan lapar, tapi pada kemampuan kita mengatur nafsu makan dan minumnya. Sementara ketidakmampuan mengendalikan nafsu makan dan minum, banyak menyebabkan orang melakukan kemaksiatan dan dosa.

Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu istirahat dan tidur. Tujuannya, tentu bukan agar kita sedikit atau tidak tidur. Tappi agar kita mampu mengatur tidur sehingga tidak dikalahkan oleh rasa kantuk saat menjalankan kewajiban. "Membiasakan diri untuk tidak tidur bukan tujuan, tapi agar seseorang bisa menguasai dan mengendalikan tidurnya, sehingga ketika menunaikan kewajiban tidak dilalaikan oleh tidurnya," demikian ujar Ibnu Ataillah rahimahullah.

Terkadang. Ada orang yang jarang tidur tapi ternyata ia tak mampu bangun shalat subuh diawal waktu. Ada juga orang yang tampak sering tidak tidur tapi juga kerap tidak dapat bangun sebelum fajar untuk istighfar dan tahajud. Begitulah.

Kita juga telah berusaha mengendalikan nafsu syahwat dibulan Ramadhan. Bukan untuk menghilangkan nafsu syahwat, tapi gara dalam diri kita muncul kemampuan mengontrol dan menahan nafsu syahwat. Sebab ketidakmampuan mengendalikan dan mengontrol nafsu syahwat akan benyak menenggelamkan orang dalam kubangan dosa yang sangat menggelisahkan.

Berdoa dan perbanyaklah berdoa saudaraku.

Kita sangat membutuhkan bantuan dan kekuatan dari Allah SWT dalam menjalani semuanya. Sejauhmana kadar perasaan kita dalam membutuhkan Allah, sejauh itulah jenjang kedekatan kita kepada Allah. Perasaan butuh kepada Allah bergerak paralel dengan jenjang kedekatan seorang hamba kepada-Nya. Setiap kali rasa fakir dan kebutuhan kepada Allah semakin kuat, setiap itu pula bertambah perasaan kita terhadap makna Laa haula walaa quwwata illa billah. Tidak ada daya untuk menghindar dari maksiat terhadap Allah kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada daya untuk tetap taat kepada Allah, kecuali dengan pertolongan-Nya. Tidak ada gerak, tidak ada diam kecuali dengan pertolongan Allah.

Mari lebih mendekat kepada Allah dengan memperbanyak berdoa. Doa adalah bentuk praktis dari rasa membutuhkan. Doa adalah suasana jiwa paling puncak dari seseorang yang meyakini bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi Yang Menguasai. Hanya Allah sajalah yang bisa membimbing dan memberi kekuatan batin untuk kita sehingga tetap sabar menunaikan berbagai kewajiban dalam hidup.

"Ya Allah, para pengemis telah berhenti di pintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung di hadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan-Mu dan keluasan-Mu, berharap dapat singgah di halaman kasih-Mu dan anugerahmu. Tuhanku jika dibulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malamnya dengan penuh keikhlasan, maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadat, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan."

"Ya Allah, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang yang sedikit amalnya. Ilahi, beruntunglah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangiolah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf-Mu, Wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi."

Saudaraku.
Kendali hawa nafsu yang kita pernah berusaha untuk memilikinya jangan dilepas, hawa nafsu itu ada kendalinya, jangan biarkan ia lepas. Ingat selalu perkataan seorang salafushalih, "Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Sedangkan sumber ketaatan, kesadaran dan meninggalkan hal-hal yang dilarang adalah tidak adanya keridhaan terhadap nafsu."[]

die *Majalah Tarbawi*
Edisi 50 Th. 4/2 Januari 2003


Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University

Alternatif Membuka Website Yang Diblokir