Bebas Keuangan

Bebas Keuangan

Oleh Muhammad Rizqon

Kesulitan hidup yang menghimpit, sering menjadikan hati terasa sempit. Dalam kondisi hati yang sempit seperti itu, alternatif solusi yang biasanya muncul adalah mengerucut pada hal-hal yang bersifat materialis dan mengabaikan hal-hal bersifat spiritualis. Faktor keuangan menjadi alasan yang mengemuka, sedangkan faktor keimanan dan kedekatan kepada Allah SWT menjadi faktor yang kurang dominan.

Pikiran orang kebanyakan, uang adalah penghalang mental (mental block) dan sedikit sekali orang membebaskan diri dari faktor uang dalam mencapai keinginan atau tujuan tertentu. Orang yang membebaskan faktor uang, disamping dianggap sebagai tidak realistis, mereka juga dipastikan tersingkir dari percaturan hidup yang bernuansa materialisme, baik di bidang ekonomi atau politik.

Namun apakah semuanya berlaku demikian? Ternyata tidak. Suatu hari di Bandung, saya berjumpa seorang sahabat yang unik. Dia begitu yakin akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah. Uang memang diakuinya sebagai SALAH SATU cara mencapai tujuan, bukan sebagai cara UTAMA atau DOMINAN. Ia menggarisbawahi bahwa kita jangan sampai terbelenggu olehnya, terjebak olehnya, sehingga kita menjadikan dia sebagai Tuhan. Bagaimanapun, semua keberhasilan atau tercapainya tujuan itu diperoleh atas IZIN ALLAH.

Satu kekuatan yang lebih patut dijadikan sandaran utama kehidupan, yang dengan menyakininya maka semua penghalang-penghalang dalam kehidupan menjadi tidak begitu bernilai, adalah Allah SWT, yang dengan kekuasaan-Nya mampu mewujudkan apa saja yang dikehendak-Nya (KUN FAYAKUN).

***

Suatu ketika saya bertamu ke seorang sahabat yang menginap di hotel karena sedang mengikuti pelatihan. Saya diajak ke restoran hotel, lalu ia menawarkan saya minuman/makanan. Kami pun mengambil daftar menu yang terhidang di meja.

Ia berujar kepada saya sambil membaca daftar menu, "Pak, silahkan mau minum/makan apa." Saya yang mengetahui kondisi finansial sahabat saya itu, otomatis memilih-milih menu yang ringan dan tidak memberatkan dirinya.

Namun di luar dugaan ia mengatakan, "Pak, lihat sisi kirinya aja. Abaikan sisi kanannya."
Kesanya dia mencoba bercanda dengan harga didaftar menu yang mahal-mahal (yang tercantum disisi kanan daftar). Saya diminta fokus kepada menu bukan kepada harga. Kami pun tersenyum dan tertawa kecil.

Dia lantas bercerita tentang penghalang mental sebagaimana saya ungkap di atas. Dia kini berusaha menjadi orang yang "Bebas Keuangan", yang berarti berusaha membebaskan faktor uang ketika ia berkeinginan atau ingin meraih tujuan tertentu. Dan ia bertutur banyak hal yang ia alami ternyata bisa dicapai tanpa harus serba uang. Subhanallah.

***

Kini saya memiliki dua makna tentang bebas keuangan. Pertama, orang yang selalu tercukupi kebutuhan finansialnya karena ia memiliki banyak investasi, baik berupa kepemilikan saham, obligasi, emas, deposito, harta produktif, bisnis pribadi, dan lain-lain. Orang type ini adalah orang kaya, dan dengan perangkat investasinya kekayaannya selalu bertambah.

Kedua, adalah orang biasa, bahkan tidak memiliki kekayaan yang berarti. Tetapi ia memiliki investasi amal kebaikan yang luar biasa. Atau ia memiliki kekayaan, tetapi ia hanya mengambil seperlunya untuk dirinya, sisanya diinfaqkan di jalan Allah SWT. Ajaibnya, jika ia memiliki kebutuhan akan uang, ada saja jalan bagi dirinya untuk mendapatkannya. Dia tidak memiliki jaminan aset tetapi ia memiliki jaminan amal sholeh dan janji Allah SWT yang akan memudahkan urusan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. (QS Ath Thalaaq 65: 3-4).

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat adalah generasi yang bebas keuangan. Rasulullah SAW tiada pernah menyimpan harta dalam rumahnya. Para sahabat utama, meskipun ia adalah pengusaha kaya, adalah yang paling ringan sedekahnya.

Hikmah yang bisa kita ambil, kita memang tidak menafikan harta dalam kehidupan di dunia ini. Ia boleh diimpikan dan dikejar. Bahkan mayoritas dari 10 sahabat yang dijamin Allah masuk surga adalah sahabat yang kaya.

Hanya saja persepsi kita boleh jadi tidak seperti mereka, dan ini yang perlu dirubah. Harta adalah sarana bukan tujuan. Harta bukanlah untuk ditimbun tanpa manfaat atau dimubazirkan. Harta harus dioptimalkan sebagai sarana (leverage) untuk beramal kebaikan yang lebih sempurna.

Hal ini selaras dengan firman Allah SWT: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al Qashash 28:77).

Wallahua'lamu bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)




Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Menjelajah Dunia dengan Google

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University