[Serial Anak Pahlawan 2]: Tujuh Hal Penting dalam Mendidik Anak

Assalamualaikum w.w.

Lanjutan tulisan, bagian kedua.
Semoga bermanfaat.

Wass.w.w.

[Serial Anak Pahlawan 2]: Tujuh Hal Penting dalam Mendidik Anak
Oleh: Udo Yamin Majdi

"Ingatlah Puzzle!" kata Gordon Dryden, "akan jauh lebih mudah jika Anda melihat gambar keseluruhannya lebih dahulu." Memulai sesuatu dengan gambaran menyeluruh, akan memudahkan kita untuk memahaminya. Begitu juga halnya, dalam memahami masalah pendidikan anak, akan akan lebih jelas, bila kita susun dalam sebuah struktur. Dengan kata lain, sebaiknya kita bicarakan hal-hal yang global dulu baru kemudian kita beranjak kepada hal-hal yang detail.

Untuk itu, dalam pertemuan kedua ini, kita mencoba melihat secara sekilas komponen atau unsur-unsur yang membangun proses mendidik anak menjadi pahlawan. Setidaknya, menurut saya, ada tujuh hal yang benar-benar harus kita fahami sebagai orang tua dalam mendidik anak.

Pertama, memahami sekaligus memilih sistim pendidikan anak. Mendidik anak butuh keyakinan. Dan keyakinan tidak pernah tumbuh bila tidak memiliki pijakan jelas. Sedangkan agama salah satu fungsinya adalah sebagai pijakan hidup. Oleh sebab itu, sebagai orang beragama, dalam mendidik anak, kita harus bersandar dengan sistim pendidikan yang sesuai dengan agama kita. Jika tidak, maka baik kita sebagai ortu maupun anak-anak kita, akan mengalami split personality; pribadi yang terpecah, atau memiliki kepribadian ganda. Dalam bahasa Islamnya, pribadi munafik (hipokrit).

Di tengah serbuan pemahaman semua agama benar (pluralisme agama), semua agama tidak benar (nihilisme), tidak ada tuhan (Ateis), faham memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme), dan sangat ekstrem dalam memahami Islam (terlalu liberal, dan terlalu dogmatis), tentu saja pilihan kita mendidik anak berdasarkan agama yang kita yakini, bukan sesuatu yang mudah. Tanpa memahami Islam dengan benar, maka kita akan mudah terombang-ambing, bahkan tanpa kita sadari muncul ketakutan terhadap Islam.

Tidak sedikit saya mendengar curhat ibu rumah tangga yang menceritakan bahwa ia bertengkar dengan suaminya sebab suaminya tidak setuju anaknya di sekolah Islam, karena khawatir anaknya "terlalu Islami", padahal pasangan suami-isteri itu adalah muslim. Atau, suatu ketika, saya dan teman-teman membimbing para remaja. Dalam bimbingan itu, kami jelaskan materi kewajiban menutup aurat terutama memakai jilbab bagi wanita. Al-hamdulillah, hampir 100% anak didik kami itu mau makai jilbab. Namun di tengah membuncahnya rasa bahagia itu, tiba-tiba ada orang tua datang berbicara: "Jangan ajarin anak kami Islam yang keras!"

Mengapa hal itu terjadi? Sebab, orang tua tidak mau memahami ajaran Islam langsung dari sumbernya, Al-Quran dan Al-Hadis. Sebaliknya, hanya mendengarkan perkataan orang, media massa, dan dari orang-orang yang memang tidak suka terhadap Islam. Diperparah lagi, jika mereka memeluk Islam karena keturunan, bukan berdasarkan pencarian atas kebenaran, proses panjang, dan pilihan hidup. Ini yang kita kenal dengan Islam KTP. Jadi, jangankan mereka memahami sekaligus memilih sistim pendidikan dalam Islam, sebab memahami sekaligus memilih Islam saja tidak mereka lakukan.

Sistim pendidikan Islam (manhaj at-tarbiyah al-islamiyah), sangat berbeda dengan sistim pendidikan yang lainnya. Ciri khas Manhaj tarbiyah Islamiyah sejalan dengan ciri khas Islam. Sedangkan ciri khas Islam, diantaranya: Rabbâniyah (sistem rabbani), Tauhid (bersumber dari ajaran Keesaan Allah Swt), Tsabat (permanen/tetap dalam prinsip), Syamûl (universal), At-Tawâzun (seimbang), Al-Ijâbiyah (konstruktif), Al-Waqi'iyah (sesuai dengan realita), Sâmiyah (Mulia, tinggi), Mutakâmil (Integral), Istimrâriyah (Berkelanjutan), dan seterusnya.

Singkatnya, ketika kita memilih sistim pendidikan Islam, maka secara otomatis kita harus memahami Islam itu sendiri. Masalah pendidikan bila kita hubungkan Islam akan menjadi sub-sistem, sedangkan Islam sebagai kumpulan dari sistim kehidupan, baik itu sistim idiologi, sistim politik, sistim ekonomi, sistim sosial budaya, maupun sistim pendidikan. Nah, sudahkah kita memilih sistim pendidikan Islam untuk anak-anak kita? Lebih penting lagi, sudahkah kita memahami Islam sebagaimana yang Allah dan rasul-Nya ajarkan?
 
Kedua, memahami fase dan tugas perkembangan anak. Ini sangat penting, sebab sangat erat dengan materi, metode, pola pendekatan, dan semua proses dalam mendidik anak. Misalnya, dalam mendidik anak balita, pola pendekatan audio dan metode bermain lebih efektif, bahkan harus, dibandingkan pola pendekatan dan metode lainnya. Anak berusia sepuluh tahun, kita memakai audio-visual dan metode disiplin. Sedangkan anak berumur dua puluh tahun, kita pakai gaya belajar audio-visual-kinestik dan metode patnership. Begitu seterusnya.

Sebagai orang tua, tentu kita harus sangat memahami tentang anak kita. Namun sayang, terkadang hal ini tidak kita lakukan, dengan alasan sibuk mencari rizki untuk membahagiakan anak-anak kita. Sudah menjadi rahasia umum, bagi ortu yang bekerja di luar rumah dan anak dititipkan dengan pembantu, maka pembantu lebih faham terhadap sang anak dibandingkan dengan ortunya sendiri. Akhirnya, ikatan batin antara ortu dengan anak-anak mereka terputus. Jika ini terjadi, jangan pernah harap pendidikan akan berhasil!

Ketiga, menyadari kemampuan sebagai pendidik. Setelah kita menyadari bahwa kita adalah pendidik utama anak-anak kita, maka selanjutnya kita harus menyadari kemampuan kita dalam mendidik. Kita harus mengukur diri sejauhmana pengetahuan, ilmu, skill, dan waktu kita untuk mendidik anak. Bagi ortu sarjana pendidikan, tidak bekerja di luar rumah, dan harta melimpah, mungkin untuk mendidik anaknya di rumah, hal yang mudah. Sebaliknya, bagi ortu yang tingkat pendidikan menengah ke bawah, banting tulang cari rizki, dan hidupnya "gali lobang tutup lobang", ini suatu hal yang sulit. Nah, dengan memahami kelebihan dan kekurangan kita, maka kita bisa merumuskan strategi dalam mendidik putra-putri kita.

Keempat, memilih wilayah atau tempat mendidik anak. Ini masih berkaitan dengan point ketiga, tingkat kemampuan kita dalam mendidik anak, akan menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Bagi ortu yang kurang menguasai ilmu keislaman sedang mereka sangat ingin anaknya memahami Islam dengan benar, maka ada banyak pilihan, baik itu wilayah informal (mendatangkan guru ngaji ke rumah), formal (menyekolahkan ke madrasah atau ke pesantren), maupun non-formal (menyertaikan anak pada kegiatan keislaman di masyarakat sesuai dengan kelompok umurnya). Bahkan meskipun sudah memilih tiga wilayah itu, masih ada juga yang bingung, misalnya telah memilih wilayah formal, sekolah atau perguruan tinggi mana untuk anaknya?

Kelima, memilih atau merumuskan kurikulum pendidikan. Bila kita mempercayakan pendidikan anak kita jalur formal, sebaiknya kita memahami kurikulum sekolah/pesantren yang akan kita pilih, sehingga kita benar-benar memahami ke arah mana anak kita akan dididik. Untuk sekolah negeri, mungkin tidak terlalu sulit, sebab semuanya akan mengacu kepada kurikulum pemerintah, baik itu KBK maupun KTSP. Beda dengan sekolah swasta, terutama pesantren, memiliki kurikulum tersendiri. Sebaliknya, jika memang kita memilih mendidik anak kita sendiri di rumah (homeschooling), maka kita dituntut untuk merumuskan kurikulum sesuai dengan keinginan kita.

Keenam, merencanakan dan menyiapkan dana pendidikan. Seringkali ortu bercita-cita anaknya sekolah di sekolah terpadu atau kuliah di universitas terkenal, namun kandas karena tidak punya biaya. Sebab, rata-rata sekolah dan universitas bermutu bayarnya sangat mahal. Akhirnya terjadi dilema, apakah memasukan anak ke sekolah atau universitas murah tapi kurang bermutu, atau ke sekolah/universitas berkualitas namun sangat mahal?

Sebenarnya, kondisi itu bisa terelakan, manakala ortu benar-benar merencanakan sekolah/kuliah anak-anaknya. Karena, dalam merencanakan pendidikan anak, tidak sekedar mau ke mana anak sekolah/kuliah, tapi juga memikirkan bagaimana biayanya? Di sini, ortu yang sudah merencanakan pendidikan anak-anaknya, berbeda-beda, ada yang dengan menabung, ada yang menginvestasikan dana pendidikan dalam bentuk usaha, dan seterusnya.

Ketujuh, menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung keberhasilan operasi pendidikan. Hal yang terakhir ini, tak kalah pentingnya, dengan enam hal sebelumnya. Anak-anak yang belajar disertai dengan sarana dan prasarana lengkap dengan yang tidak, hasilnya akan jauh berbeda. Jangan membayangkan sarana dan prasana ini harus beli dan hal yang mewah, tentu saja tidak demikian. Yang penting ortu kreatif menciptakan dan memanfaatkan apa saja, agar kegiatan belajar-mengajar efektif dan efiesien.

Itu saja yang dapat saya sampaikan, insya Allah, akan kita diskusikan secara detail, dalam pertemuan selanjutnya. Kalau ada yang keliru mohon diluruskan. Manakala ada yang yang belum tersebutkan, maka silahkan Anda tambahkan. Intinya, saya ingin mengatakan bahwa apapun latar belakang status sosial, tingkat pendidikan, maupun sebagai bapak atau ibu, kita dituntut untuk memahami masalah pendidikan anak, apalagi kita sebagai umat Islam, kita harus memahami seperti apakah pendidikan yang Islami itu? Wallahu a'lam

Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Menjelajah Dunia dengan Google

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University