Dengarlah: Ada Orang Baru Mati

Dengarlah: Ada Orang Baru Mati
Dengarlah: Ada Orang Baru MatiPublikasi: 09/08/2004 08:49 WIB
eramuslim - Apa yang terjadi bila manusia mendengar kabar kenalannya telah meninggal dunia? Saya tak pernah menyangka harus mengalaminya secepat ini. Seseorang kenalan saya telah dikabarkan meninggal dunia, Jumat, 30 Juli yang lalu. Tepat setahun setelah kelulusannya dari STM Pembangunan, Jakarta. Ya, dia baru lulus satu tahun. Namanya: Yusna. Yusna Dianto.

Dia, adik kelas saya-terpaut hanya satu tingkatan. Umurnya? Ah, dia belum setua saya. Mungkin umurnya belum genap 21 tahun. Untuk itu saya banyak diam. Yusna telah pergi di usianya yang masih sangat muda. Seperti Nike Ardilla, Marilyn Monroe. Juga seperti Ade Irma Suryani. Muda, mati.

Sebelum ini -entah kenapa- saya selalu yakin: orang-orang Jakarta -yang saya kenal- akan mati karena usia. Di Jakarta tidak sedang perang seperti di Palestina, atau di Irak. Satu-satunya peperangan yang terjadi di sini adalah peperangan kekuasaan. Mungkin, keyakinan saya itu terlalu konyol. Orang bisa mati karena apa saja, bukan? Karena tertimpa batu, kecebur sumur, ditusuk penodong dalam bis, jatuh dari tangga, keracunan, atau tertabrak mobil saat menyeberang jalan.

Tapi, tidakkah kita semua -tanpa sadar- tengah percaya pada keyakinan yang sama? Saya bukannya tidak tahu orang mati bisa karena apa saja, tapi kenapa, ya, pengetahuan itu seolah lenyap dari jati diri keseharian kita? Bukankah hanya orang-orang yang punya keyakinan seperti itu yang hidup tanpa beramal baik setiap harinya?!

Lihat saja kita sekarang. Pergi pagi, pulang senja. Kerja, kerja, kerja. Habis waktu untuk mencari uang. Subuh kesiangan, Zuhur habis buat makan siang, Ashar tanggung sedikit lagi pulang, Maghrib ada di jalan, Isya berbaring tidur kecapekan -persis lagu sindiran pengamen jalanan. Kalaupun ada waktu untuk berbuat amal, itu harus seijin rasa malas di hati kita.

Padahal... ah, rasanya kok, ya, percuma saja. Bicara mati pada orang kota itu sangat susah. Harusnya mereka sendiri yang mengalaminya. Harusnya mereka sendiri yang disadarkan dengan kematian salah satu kerabatnya. Kalau hanya lewat tulisan, besar kemungkinan mereka akan melewatkannya dengan sebelah mata. Sudah mati rasa bila bicara hal semenyeramkan itu. Mungkin mereka masih -terus- percaya: orang-orang Jakarta akan mati bila usia mereka sudah tua. Mereka begitu yakin: mati nanti bila usia telah tua. Dan kini, ketika mereka masih muda, tak perlu risaukan maut dengan banyak beribadah. Kelak mereka akan melakukannya; bila sudah renta, bila ajal semakin nyata di depan mata. Kalau begitu, bila mereka masih percaya itu keyakinan yang tak berguru itu, saya yakin mereka tak akan pernah betul-betul sadar: orang mati bisa kapan saja.

Asa Mulchiasasamulchias@yahoo.com

Untuk Yusna: Yus, maafkan saya selama ini. Maaf atas segala kesalahan, atas segala kekhilafan. Maafkan segera, sebelum saya menyusulmu kesana... Ah, Yus... sedikit lagi, kan, bulan puasa....

Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Menjelajah Dunia dengan Google

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University