Mengharap Mendapatkan Hidayah

Mengharap Mendapatkan Hidayah

Senin, 04/07/2011 13:45 WIB

oleh Syaikh Aid Abdullah al-Qarni
sumber:eramuslim


Seandainya Musa as mengatakan: "Tuhanku Maha Mengetahui". Tentulah Firaun akan mengatakan: "Aku pun mengetahui". Karena predikat mengetahui merupakan sifat yang dimiliki, baik orang Khaliq maupun oleh makhluk, padadal Allah Subhana wata'ala Mahabesar. Ternyata dalam jawabannya Musa as mengatakan:

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

"Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk". (QS. Thaha [20] : 50)


Inilah yang dimaksud dengan hidayah bagi makhluk, hingga anda jumpai orang kafir mendapat petunjuk untuk makan, mendapat petunjuk untuk tidur, dan mendapat petunjuk untuk tertawa.

Hidayah khusus adalah hidayah orang-orang mukmin. Kalangan ahlul ilmi menyebutnya hidayah taufiq dan keberhasilan alias hidayah ke jalan yang lurus.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus". (QS. Al-Fatihah [1] : 6)


Di antara tanda-tandanya ialah jalan ini dapat mengantarkan pelaku ke tujuan, mendekatkannya ke tujuan, bersifat tertentu, dan dapat ditempuh lagi mempunyai pemimpin. Petunjuk inilah yang kita minta dari Allah Subhana wata'ala dengan gencar dan sangat di setiap raka'at. Semoga Allah menujuki kita ke jalan yang lurus.


Para ulama mengatakan bahwa di sini terdapat kesulitan untuk dipahami, karena mengapa Nabi Shallahu alaihi wa sallam mengucapkan dalam doanya: "Ya Allah, tunjukkah aku". Padahal Allah telah memberinya petunjuk. Bahkan beliau sendiri adalah pemberi petunjuk yang besar.

"Jika kami berada dalam kegelapan malam, sedangkan engkau adalah iman (pemimpin) kami, maka cukuplah yang memberi semangat unta kendaraan kami harumnya sebutanmu".

Nabilah orang yang dijadikan perantara oleh Allah Ta'ala untuk memberi petunjuk kepada hati manusia. Oleh karena itu, disebutkan dalam firman-Nya :

إِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus". (QS. As-Syura [42] : 52)


Jawaban pertama, Ibnu Taimiyah rahimahumullah mengatakan bahwa Nabi Shallahu alaihi wassalam memohon petunjuk dari Allah, tiada lain karena petunjuk dari Allah, tiada lain karena petunjuk punya tingkatan dan tingkatannya masing-masing, dan yang tertinggi serta paling puncak diantaranya ialah al wasilah yang sangat diinginkan oleh Nabi Shallahu alaihi wassalam untuk dicapai dan dengan izin Allah beliau pasti akan sampai padanya.

Oleh karna itu, kita dianjurkan sesudah adzan mengucapkan do'a berikut:

"Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad kedudukan al wasilah dan keutamaan, dan tempatkanlah ia pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya". (HR. Bukhari)


Jawaban kedua, setiap hari seorang hamba akan makin bertambah hidayahnya dan Rasul Shallahu alaihi wassalam meminta kepada Allah Ta'ala agar memberinya tambahan hidayah setiap saatnya, karena hidayah itu terbagai-bagi dan bertingkat-tingkat sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.


Jawaban ketiga, jalan-jalan hidayah itu banyak sekai seperti bilangan nafas. Apabila Allah Ta'ala tidak memberi anda petunjuk setiap saat dan dalam semua aktivitas anda, baik saat anda bergerak maupun diam, berarti anda tidak mendapat petunjuk. Untuk itulah Nabi Shallahu alaihi wassalam memohon kepada Tuhannya agar memberinya hidayah yang terus menerus bertambah.


Adalah Nabi Shallahu alaihi wa ssalam bila melakukan qiyam pada malam harinya sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Shahih Muslim melaluli hadist Aisyah beliau mengucapkan doa:

"Ya Allah, Tuhan yang memiliki Jibril, Mikali, dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui semua yang ghaib da yagn nyata, Engkaulah yang memutuskan diantara para hamba terhadap apa yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada hal yang benar dari apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus".


Allah pun memberi petunjuk, baik petunjuk yang khusus maupun yang umum, dan dengannya Allah memberi petunjuk kepada banyak umat.

Perlu anda ketahui bahwa di sana ada dua macam hidayah lainnya, yaitu :


Pertama, hidayah yang bersifat goblal. Seseorang mendapat petunjuk kepada agama Islam, rukun-rukun Islam, dan rukun-rukun iman, msalnya, maka orang ini disebut telah mendapat petunjuk secara global. Contoh, lainnya ialah orang-orang Arab pedalaman, orang-orang mukmin yang lalai, dan aorang-orang awam yang tidak mengetahui agama Islam, mereka mendapat petunjuk kepada Islam, tetapi hanya secara globalnya.


Kedua, hidayah terperinci, ialah hidayah orang-orang yang dikasihi oleh Allah, seperti ulama yang mendalami agama Allah, yaitu merek ayang mengetahui hukum-hukum Allah berikut dalil-dalilnya. Mereka mempunyai pengetahuan yang detail tentangnya dan mereka menemukan rahasia-rahasia syariat dan hikmat hikmahnya. Inilah yang disebut dengan hidayah yang terperinci.


Contoh lainnya, hanya milik Allah lah perumpaan yang tertinggi ialah seorang lelaki melihat sebuah rumah, lalu ia mengetahui bagian luarnya, pintu-pintu, dan jendela-jendelanya, serta mengetahui jalan masuk dan jalan keluar nya. Orang ini telah mengetahui rumah itu dengan pengetahuan secara global.

Berbeda halnya dengan pengetahuan yang terperinci, yaitu bila anda mengetahui ukuran panjang dan lebarnya, mengetahui ketebalan temboknya, ketinggiannya, bahan-bahan bangunannya, tempt masuk dan tempat keduanya, pntu-pintu yang ada di dalam , dan semua perabotannya. Hal inilah yang disebut dengan hidayah terperinci.

Semoga anda tergolong orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah Azza wa jalla. Wallahu'alam.

Comments

Pak ustadz, mau tanya sedikit boleh ya..

saya punya rekan kerja yang bikin saya sedih, lantaran dia mengaku bahwa dia memang dilahirkan dari kedua orang tuanya yang muslim, tapi sendiri seolah kehilangan arah karena saya tidak pernah melihatnya menginjakkan kaki ke mushola dan makan disaat bulan puasa di depan kawan2. Tetapi dia tahu bahwa hakikatnya Tuhan ada.

Baginya Tuhan itu melekat, tapi dia tidak menyatakan dirinya Islam. dia tidak menyukai orang2 islam "garis keras" (katanya)

Yang saya tanya adalah, apa yang harus saya lakukan saat dia diskusi soal ketuhanan pada saya? sedangkan sedih rasanya hati ini melihat teman muslim namun hilang arah. dia tidak suka di tegur/dibilangin/ di promosikan bahwa islam itu baik.. dsb..

Bagaimana Ustadz? saya cuman bisa mendoakan saja kah?
admin said…
Adalah suatu kebahagiaan dan kebanggakan, seandainya kita bisa menjadi jalan hidayah bagi teman atau saudara kita yang masih kehilangan arah dalam pencariannya. Karena dalam diri setiap manusia, telah ada fitrah yang Allah tanamkan sejak lahir, yaitu fitrah untuk mencari Tuhannya. Tugas kita sebagai teman atau saudara seagama adalah mendampinginya dan menuntunnya agar sedikit demi sedikit bisa kembali ke arah yang diinginkan oleh Allah SWT.

Maka hal yang sering dianjurkan oleh Nabi kita adalah menyampaikan kepadanya apa yg seharusnya untuk disampaikan. Terutama tentang kebaikan2 Allah kepadanya, dan bagaimana kita sebagai ciptaannya harus mensyukuri dengan mengikuti tuntunan yg telah Allah gariskan.

Adapun perkara hidayah dan taufik, kita serahkan kepada Allah yang Maha berkuasa membuka hati hambaNya.

Tentang orang2 islam yang dianggap 'bergaris keras', saya melihat bhw yang harus dinilai bukanlah pelaku ajaran islamnya, tapi lihatlah ajaran islam itu sendiri. Lihatlah betapa banyak ajaran dari Al Quran dan sunnah Rasulullah yang penuh dengan kebaikan, keadilan dan kesejahteraan buat ummatnya.
Dengan mengubah cara pandang seperti ini, insya Allah pintu hidayah akan terbuka bagi siapapun yang sedang mencari kebenaran.
Wallahu a'lam bis shawab.

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University

Alternatif Membuka Website Yang Diblokir