Belajar Aktif

Rabu, 05 Mei 2010 09:33:00 Wib
Belajar Aktif
By : Ahmad Baedowi
Untuk memulai sebuah proses belajar aktif memang bukanlah hal mudah, apalagi jika guru tak memiliki bacaan dan wacana yang luas tentang substansi mata ajar yang diembannya. Sehebat apapun teknik dan metode yang dimiliki seorang guru dalam mengajar, akan sangat tergantung dari seberapa besar sumber bacaan yang telah diserapnya. Selain itu, metode tersebut juga biasanya berkesesuaian dengan strategi yang ingin dibangun seorang guru ketika hendak mengajar.

Menguasai dan mengetahui beberapa teknik untuk melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang guru ketika merancang rencana pembelajarannya (lesson design). Teknik mini-lektur, misalnya, adalah cara ringkas menyampaikan latar belakang informasi yang penting, temuan-temuan ilmu pengetahuan yang baru, dan contoh-contoh yang membangun motivasi keilmuan. Harus diingat, penyampaian materi harus singkat, tidak memakan waktu lama – sekitar 10-15 menit. Teknik kedua, jedah klarifikasi adalah cara yang memungkinkan seorang guru berkeliling ruang kelas, sementara murid mereview catatannya. Murid yang belum memahami hal tertentu, dengan demikian, memiliki kesempatan untuk bertanya kepada guru secara tidak formal. Murid pemalu yang tidak pernah bertanya secara formal akan memanfaatkan jedah klarifikasi ini untuk bertanya ketika guru menghampirinya.

Diskusi berpasangan, merupakan kegiatan sederhana yang memberi kesempatan kepada murid untuk berpikir tentang suatu topik pelajaran, kemudian berdiskusi dengan teman sebangkunya atau pasangan yang ditetapkan guru tentang topik itu. Hasil diskusi kemudian disampaikan kepada seluruh kelas. Strategi ini menihilkan keengganan murid untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Uji coba sistem berpasangan ini memperlihatkan hasil yang dicapai untuk nilai tengah semester lebih tinggi 10 poin – dengan rentang nilai hingga 100 – dibandingkan  dengan ulangan individual.

Selain itu teknik laporan satu menit (pre-test and post-test), memberikan kesempatan kepada murid untuk mensintesiskan pengetahuannya dan menanyakan permasalahan yang belum dipahaminya. Menjelang penghujung pelajaran, mintalah murid-murid untuk membuat jawaban tertulis singkat – di atas selembar kertas – untuk pertanyaan: Apa hal terpenting yang dipelajarinya dalam sesi pelajaran itu? Pertanyaan penting apa yang masih belum terjawab? Kedua pertanyaan kunci ini bisa diajukan dalam berbagai variasi. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memperkuat proses pembelajaran murid dan memberikan umpan balik kepada guru tentang pemahaman murid terhadap apa yang telah dipelajari.

Guru juga dapat memberikan kegiatan menulis bebas dalam berbagai topik pelajaran yang memberikan peluang kepada murid untuk berpikir dan memproses informasi. Contohnya, disamping laporan satu menit, guru dapat membuat pertanyaan dan meminta murid bebas menjawabnya secara tertulis. Peluang bisa juga diberikan kepada murid untuk menulis secara bebas mengenai topik pelajaran tertentu. Setelah itu gunakan juga teknik curah gagasan, sebuah teknik sederhana yang dapat melibatkan seisi kelas dalam suatu diskusi. Kemukakanlah suatu topik atau masalah, kemudian mintalah masukan murid untuknya, dan tulislah masukan itu di papan tulis.

Permainan (games) yang terkait dengan pelajaran dapat diperkenalkan di dalam (indoor) atau di luar (outdoor) kelas untuk membantu pembelajaran aktif dan meningkatkan partisipasi murid. Aktivitas kelompok kecil dalam debat akan memberikan setiap Murid kesempatan untuk berbicara, menyampaikan pandangan pribadinya, dan mengembangkan kemampuannya untuk bekerja sama dengan murid lain.  Bekerja secara berkelompok mengharuskan seluruh murid bekerja sama menyelesaikan suatu tugas dalam suatu teknik kelompok kerja kooperatif. Teknik ini dapat dilanjutkan dengan konsep bermain peran.

Siklus belajar, digunakan terutama dalam mengajarkan ilmu pengetahuan alam. Siklus belajar ini dibagi ke dalam tiga fase: eksplorasi, pengenalan istilah-istilah konsep, dan aplikasi. Pada fase eksplorasi, murid mengeksplorasi fenomena, membuat prediksi jika memungkinkan dan mengevaluasi hasilnya. Dalam fase kedua, fasilitator mengungkapkan istilah-itilah yang digunakan untuk menamakan pola, regularitas dan karakteristik lain dari konsep yang tengah dipelajari. Dalam fase aplikasi, murid mempraktekkan penerapan konsep-konsep tersebut dalam situasi yang berbeda. Teknik ini dapat diteruskan dengan bermain peran

Simulasi, merupakan kegiatan yang distrukturkan hingga mirip pengalaman nyata. Dalam simulasi, murid-murid diminta membayangkan diri mereka berada dalam suatu situasi, atau memerankan permainan/aktivitas terstruktur yang membuat mereka bisa mengalami suatu perasaan yang mungkin saja timbul dalam suatu situasi tertentu. Teknik terakhir yang patut dicoba para guru adalah studi kasus. Gunakan kisah nyata yang melukiskan apa yang terjadi pada suatu masyarakat, keluarga, sekolah, atau individu, untuk mendorong murid mengintegrasikan pengetahuan yang didapatnya di ruang kelas dengan pengetahuannya tentang situasi, aksi, dan konsekuensi di dunia nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Menjelajah Dunia dengan Google

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University