Energi dan Realisasi Mimpi

Oleh: Mukhamad Najib, Mahasiswa S3 Universitas Tokyo

Beberapa tahu lalu, seorang sahabat mengingatkan saya mengenai pentingnya energi untuk meraih visi. “Impian-impian besar memerlukan energi besar”, begitu sahabat saya mengatakan. Banyak orang berhenti ditengah jalan hanya karena kehilangan daya tahan ditengah banyaknya rintangan. Karena memang impian besar akan selalu ditemani oleh besarnya tantangan.

Banyak pasangan berantakan sebelum selesai mewujudkan rumah bahagia yang diimpikan, karena masing-masing kehabisan energy kesabaran. Banyak organisasi dilanda perpecahan sebelum visi mampu direalisasikan, karena organisasi kehabisan energy untuk menghadapi friksi dan mengelola dinamika yang terjadi. Tidak sedikit manusia terdampar dirumah sakit jiwa, sebelum tuntas meraih cita hidupnya, karena tidak lagi memiliki energi untuk menahan derita dan segala kemalangan yang menimpa.

Energi yang cukup sungguh harus kita miliki untuk bisa mewujudkan segala mimpi. Bagi yang belajar Fisika, tentu sangat familiar dengan formula energi yang dirumuskan Einstein. Energi menurutnya adalah fungsi dari massa (bobot) dikalikan kuadrat dari kecepatannya (E=MC2). Jadi kalau kita ingin meningkatkan energi, menurut teori ini, kita bisa melakukannya dengan meningkatkan bobot, kecepatan atau kedua-duanya.

Bobot manusia tidak terletak pada besar kecilnya fisik yang dimiliki, melainkan pada seberapa beriman dan berilmu dia. Alquran mengatakan bahwa Allah meninggikan orang beriman dan berilmu beberapa derajat (QS. Mujadalah:11). Mengenai kecepatan, hal ini terletak dari kesegeraan manusia dalam melakukan berbagai kebaikan.

Allah mengatakan “Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,”(QS. Al Insyirah:7).

Allah tidak mengatakan “setelah selesai suatu urusan maka beristirahatlah atau berpestalah”, justru kita diminta bersegera menyelesaikan urusan lain, meminjam istilah salah satu capres “lebih cepat, lebih baik”.

Jika kita implementasikan formula Einstein, maka Energi adalah fungsi dari Keimanan, Keilmuan dan Kesegeraan. Semakin tinggi keimanan, keilmuan dan kesegeraan akan semakin besar energi yang ditimbulkan. Sehingga kita dapat mengatakan kombinasi variabel keimanan, keilmuan dan kesegeraan dalam melaksanakan berbagai agenda merupakan sumber energi bagi manusia yang ingin meraih cita-cita. Semakin besar impian yang ingin diwujudkan, maka semakin besar varibel-variabel ini harus ditingkatkan.

Alquran dalam surat Al Baqarah 246-251 menceritakan kisah menarik yang menjelaskan betapa energi manusia ternyata tidak tergantung pada banyaknya logistik yang dikonsumsi, melainkan seberapa tinggi keyakinan dan ketaatannya pada perintah Allah. Kisah ini dimulai saat Musa telah meninggal dan Bani Israil menjadi bangsa yang lemah lagi terancam.

Sebelum kemunculan Nabi Daud ada kekosongan kenabian selama beberapa ratus tahun. Saat itu hanya ada beberapa Nabi lokal diantaranya bernama Syamwil. Bani Israil meminta Syamwil menunjuk seorang pemimpin guna menghadapi Jalut yang berusaha memperluas daerah jajahannya. Kemudian diberitahu bahwa Allah SWT telah mengutus Thalut sebagai pemimpin. Bani Israil menolak karena Thalut dianggap orang miskin. Namun Syamwil mengatakan Thalut mempunyai kelebihan Ilmu dan fisik, akhirnya mereka menerima Thalut sebagai pemimpin.

Setelah diangkat sebagai pemimpin Thalut melakukan perjalanan bersama pasukannya menuju Jalut. Thalut, yang mengetahui dari ilmunya, menyampaikan bahwa mereka akan menemui sungai, dan Tuhan akan menguji mereka dengan sungai tersebut. Setelah perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah mereka di sungai yang membatasi tentara Thalut dan Jalut. Thalut berkata bahwa mereka yang akan berperang tidak boleh minum air sungai itu, kalau pun minum hanya boleh satu cakupan tangan.

Mendengar perintah Thalut, terpisahlah tentara Thalut menjadi dua golongan. Mereka yang taat dan tidak minum atau hanya minum seteguk, dan mereka yang cuek dan minum sepuasnya. Mereka berfikir sungguh tak masuk akal tentara yang kelelahan setelah berjalan jauh malah tidak boleh minum padahal sebentar lagi akan berperang dengan musuh yang menakutkan.

Ternyata apa yang terjadi?

Setelah minum, golongan yang ingkar dan minum sepuasnya, tiba-tiba diliputi kecemasan dan ketakutan, gentar hati mereka dan bergetarlah lutut mereka. Sementara golongan yang taat dan beriman terhadap apa yang disampaikan Thalut ternyata bersemangat dan memiliki kekuatan menghadapi musuh. Mereka yang telah minum banyak berkata,“Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Sementara mereka yang taat menjawab, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Thalut dan pasukannya yang beriman lalu menyeberangi sungai untuk menyambut tentara Jalut. Pertempuran dengan jumlah tentara yang tidak seimbang itu akhirnya dimenangkan pasukan kecil Thalut, dimana Daud yang masih belia berhasil membunuh Jalut yang perkasa.

Kisah Thalut meyakinkan kita bahwa ternyata energi tidak tergantung pada banyaknya logistik, melainkan justru pada seberapa dekat kita dengan Allah, seberapa berilmu kita, dan seberapa cepat kita dalam melaksanakan perintahNya. AlQuran menceritakan dengan jelas bagaimana pasukan Thalut yang minum lebih sedikit dan Daud yang masih belia mampu mengalahkan Jalut yang sangat perkasa.

Kepatuhan Thalut dan Daud pada semua perintah Allah, kesabaran mereka mengendalikan diri dari godaan materi, memberikan mereka energi yang tak tertandingi. Dengan energi yang mereka miliki, mereka tidak hanya mampu meraih impian mereka, melainkan juga menuntaskan impian bangsanya untuk memenangkan pertarungan dan melindungi bangsanya dari penjajahan Jhalut. Semoga kita mampu melipatgandakan energi yang kita miliki dengan kombinasi ilmu, iman dan kesegeraan, sehingga kita mampu meraih semua impian besar kita. Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Menjelajah Dunia dengan Google

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University