Jangan Pernah Menyerah

Jangan Pernah Menyerah

Jumat, 02/07/2010 14:00 WIB | email | print | share

Oleh M. Arif As-Salman

Senyumnya tulus. Kata-katanya bertenaga. Ia menatap hidup dengan penuh pengharapan. Seolah tak ada kata putus asa dalam kamus kehidupannya. Pemahamannya tentang Islam cukup mendalam. Sebelum bertindak ia akan berpikir berulang kali, menimbang segala sisi maslahat dan mudharatnya. Saya bersyukur bisa mengenal sosok itu. Saya merasa banyak tercerahkan dan terinspirasi oleh laki-laki itu.

Baginya, hidup harus dijalani dengan penuh optimis. Tak boleh ada celah untuk pesimis. Jika hari ini cita-cita belum bisa diraih masih ada hari esok untuk berbuat. Begitulah, laki-laki itu selalu tampak mengembang senyum di setiap kali bertatap muka dengan orang lain.

Sebagai seorang suami, ia merasa tanggung jawab yang ia emban bukan main-main. Amanah harus dijalankan sebagaimana mestinya. Saat saya tanya bagaimana ia mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin membengkak, ia menjawab dengan senyumnya yang khas, "Selama kita berusaha, insya Allah, akan dibukakan jalan oleh Allah."

Dulu, sebelum menikah, ia sering mengajak saya berbagi ilmu dan pengalaman hidup. Sehingga dari seringnya interaksi itu, saya menggali banyak ilmu darinya. Dan itu berlansung sampai hari ini. Saya mengenal ia seorang yang cukup cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Walau dari sisi akademis, ia bukan termasuk yang cemerlang, yang bisa menyelesaikan kuliah S.2 tepat waktu, tapi itu tidak mengurangi rasa simpati dan kagum saya padanya. Saat ini ia tengah menempuh studi S.2 di sebuah Universitas ternama di Kairo. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ia harus mengorbankan waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dengan bekerja setiap harinya.

Saat saya tanya, apakah ia tidak mendapat kiriman dari kampung, ia menjawab, "Abang malu meminta pada orang tua. Selagi masih bisa, abang tidak ingin memberatkan orang tua di rumah. Apalagi kondisi orang tua juga susah dan terkadang kekurangan."

Ah, seandainya ia tak terkendala dari sisi ekonomi, saya yakin kuliah S.2-nya tak akan macet, ia akan menyelesaikannya tepat waktu dengan hasil yang cemerlang. Tapi, semua sudah ditentukan oleh Sang Maha Pengatur. Sebagai hamba kita harus menjalaninya dengan penuh kelapangan dada dan tersenyum.

Kisahnya mengingatkan saya dengan beberapa sosok lain yang saya kenal. Kisah-kisah mereka begitu menggugah. Pengorbanan mereka begitu menyentuh hati saya.

"Cinta itu dibuktikan dengan pengorbanan. Jangan mudah katakan cinta, jika belum berani berkorban."

Diantara kisah cinta tersebut adalah, seorang suami yang mengalah merawat anak demi kelancaran dan kesuksesan studi istrinya. Atau istri yang mengalah tidak kuliah agar ia maksimal dalam merawat dan mendidik anak. Setelah sang suami menyelesaikan kuliah barulah istri melanjutkan kuliahnya. Jika mereka mengikuti sebuah idealisme, tentu mereka tidak akan mau mengorbankan cita-cita itu. Tapi demi sebuah kemaslahatan yang lebih besar dan untuk kebaikan pendidikan anak, mereka rela untuk menunda meraih cita-cita. Disitu pulalah nilai sebuah perjuangan dan pengorbanan yang kelak berbuah manis.

Dinatara mereka, mungkin dulu adalah orang-orang yang cemerlang di langit prestasi. Nama mereka menjadi sebutan banyak orang. Dipuja dan dimuliakan, namun kini itu semua seolah redup dan hilang. Orang tak lagi mendengar nama mereka. Tak lagi menyebut nama mereka. Bahkan orang-orang sudah melupakan diri mereka.

Dulu, mereka mungkin begitu ingin ideal setelah menikah. Urusan menjadi mudah, kuliah lancar dan masa depan cerah. Tapi, setelah mereka memasuki gerbang pernikahan mereka baru menyadari bahwa ujian kehidupan dimulai, perjuangan dan pengorbanan mereka akan dilihat dan dinilai.

Betapa banyak orang mungkin yang sukses membubuhkan nilai-nilai cemerlang di atas kertas. Namun keilmuwan, sikap, kata-kata dan interaksinya dengan orang banyak justru menjatuhkan nilai pribadinya. Ia tak dihargai bahkan dilecehkan. Pengakuan di atas kertas belum mampu membuktikan hakikat dirinya.

Dulu, mereka mungkin begitu berharap setelah menikah studi mereka akan lancar tanpa terkendala sedikitpun. Semua bayang-bayang yang enak-enak muncul dalam benak fikiran.

Tapi, saat mereka dalam suasana ujian, Allah berkehendak istri mereka hamil. Dan sebagai seorang suami yang paham akan kondisi istri, suamilah lah yang bertugas untuk mengurus rumah, memasak, mencuci sampai kondisi istri memungkinkan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah. Betapa sulitnya untuk bisa belajar dengan tenang saat perut terasa tidak nyaman, bahkan hanya gara-gara mencium sesuatu yang menusuk di hidung, istri merasa mual dan ingin muntah.

Seperti yang pernah saya alami saat istri saya hamil sewaktu masa ujian. Belajar tidak bisa focus dan tenang, karena perut yang selalu terasa mual. Begitu juga saat dalam perjalanan ke kuliah untuk mengikuti ujian, terasa mual dan bahkan mau muntah di jalan. Dan saat duduk di ruang ujianpun demikian, kondisi perut yang tidak nyaman membuat fokus menjadi berkurang atau hilang. Atau disaat masa-masa ujian Allah mentakdirkan sang istri harus melahirkan. Sehingga persiapan ujian menjadi berantakan. Atau saat masa ujian, tiba-tiba si kecil terkena demam dan pada saat bersamaan suami-istri ujian, maka satu pihak, suami atau istri harus mengorbankan diri tidak ikut ujian.

Beruntung jika dalam hal biaya ada orang tua, keluarga, dan kerabat yang mau menanggung, membiayai setiap bulan. Saat butuh, tinggal telpon orang tua minta dikirimkan uang sehingga tidak perlu pontang-panting, mondar-mandir, pusing-pusing untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Sedangkan mereka yang tidak pernah sama sekali mendapatkan kiriman dari orang tua atau mertua, tidak mendapatkan beasiswa dan bantuan, kalaupun dapat tidak seberapa, harus mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan fikiran untuk mencari uang, demi mencukupi kebutuhan keluarga. Terkadang berangkat kerja pagi dan pulang di sore atau malam hari.

Lantas apakah keadaan ini membuat mereka menyesal dengan pilihan mereka menikah saat kuliah? Saya perhatikan, tidak ada sedikitpun goresan kesedihan dan penyesalan di wajah dan dalam rangkaian kata-kata mereka. Bahkan mereka sangat bahagia dan selalu tersenyum, bersemangat dan penuh optimis menjalani hidup.

Ustadz Ahmad yang setiap hari membuat bakwan, lalu mengantarkan ke rumah makan, selalu tampak tegar dan bersemangat. Bang Arjun yang setiap hari, di pagi harinya bekerja mencuci mobil dan sore harinya keliling dari rumah ke rumah untuk menjual kebutuhan sehari-hari seperti tahu, tempe, srei, toge, kerupuk dllnya selalu tampak gigih dan bersemangat.

Apakah mereka juga tidak ingin sukses seperti yang lain? Saya yakin, mereka juga ingin sukses di bangku kuliah. Ingin mendapatkan nilai-nilai cemerlang, namun kondisi yang mereka hadapi saat ini belum memudahkan langkah mereka mewujudkan keinginan itu.

Bahkan Ustadz Abdul Wahid, salah seorang kandidat Master di sebuah Universitas ternama, rela bekerja menjadi cleaning service di KBRI demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ada juga yang berkeja di rumah makan sebagai tukang masak setiap hari, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore atau dari jam 3 siang sampai jam 12 malam.

Kalau mereka hanya duduk di rumah, menunggu rezki turun dari langit, menunggu seseorang datang di pintu rumah lalu menyodorkan sebuah amplop berisi berlembar-lembar uang dollar, tentu kondisi mereka tak akan berubah. Karena rezki itu tidak akan datang dengan angan-angan dan kemalasan, tapi harus dengan bergerak, berusaha dan bekerja keras.

Memang mereka tidak mendapatkan nilai-nilai istimewa di atas kertas. Tidak mendapatkan angka 8, 9 atau 10 di bangku kuliah. Bahkan mereka dinobatkan sebagai orang-orang yang gagal dalam studi. Tak punya prestasi yang bisa dibanggakan. Tapi dalam kehidupan lain, di dunia yang lain, nilai mereka begitu tinggi dan berharga. Bahkan mungkin mengalahkan orang-orang yang berprestasi di bangku kuliah. Jika orang-orang itu mendapatkan nilai dengan cara belajar yang tekun, menghafal dan menguasai teori keilmuwan, maka mereka telah menerapkan dalam keseharian mereka.

Bagaimana mereka bersabar menjalani hidup di tengah himpitan sulitnya ekonomi, di tengah beragam permasalahan, di tengah beragam desakan-desakan kebutuhan, bagaimana perjuangan mereka dalam mendidik istri dan anak serta memelihara keluarga dari api neraka, dstnya.

Di mata dan dalam hati orang-orang yang mencintai mereka, mereka memiliki nilai yang begitu berharga. Nilai kesabaran, nilai pengorbanan dan kerja keras serta nilai keuletan mereka. Di mata istri dan anak-anak mereka. Di mata Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin yang mengenal mereka. Yang menyadari dan merasakan hasil pengorbanan mereka untuk keluarga dan orang-orang yang mereka cintai.

Nilai ketaatan mereka pada Allah, nilai shalat 5 waktu berjamaah, nilai membaca dan mengamalkan al-Quran, nilai mencintai Rasul dan mengamalkan sunnah beliau, nilai mendidik istri, mendidik anak, nilai bekerja untuk menafkahi keluarga, nilai pengorbanan waktu, fikiran dan tenaga, dll-nya.

Semoga tulisan ini mampu mengetuk hati kita untuk tidak membiarkan rasa pesimis hinggap dalam diri dengan kondisi yang saat ini dihadapi. Yakinlah kesulitan itu akan berlalu, masa-masa susah itu tidak akan sia-sia jika kita lewati dengan jiwa perkasa dan hati yang teguh. Bahkan, kita akan menjadi orang-orang yang matang dan bijak melebihi usia kita. Kita hanya perlu menghadapinya dengan jernih dan hati yang mantap. Apa yang dulu yang pernah kita cita-citakan dalam hidup, yakinlah bahwa suatu saat nanti kita pasti bisa meraihnya. Percayalah akan kemampuan diri kita. Kita hanya perlu bersabar menjalani untuk sampai pada tujuan kita.

Sebenarnya mereka juga mampu seperti yang lain, yang sukses dalam studi. Hanya saja kondisi mereka saat ini tidak mempermudah jalan mereka kesana.

Tapi percayalah, jika hari ini kita belum bisa meraihnya, yakinkan diri bahwa esok kita pasti bisa meraihnya. Jika esok belum dapat diraih, jangan pesimis, selama kita masih hidup, selama kemauan itu masih kita jaga dan pertahankan, insya Allah suatu hari nanti, kita akan tampil juga di puncak kegemilangan seperti yang pernah kita dambakan dulu.

Sebuah ungkapan bertenaga semoga bisa memompa semangat kita, "Selama cita-cita dan kemauan keras untuk mencapainya masih Anda jaga, yakin dan percayalah bahwa suatu hari nanti cita-cita itu akan berada dalam genggaman Anda."

NB: Tulisan ini terinspirasi dari pertemuan penulis dengan seorang senior kemaren sore saat berkunjung ke rumah beliau. Sebuah pertemuan yang berkesan.

Wassalam,
marif_assalman@yahoo.com

 



Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University

Alternatif Membuka Website Yang Diblokir