Ayah sekarang Pelupa

Kamis, 19/11/2009 09:57 WIB

Assalamu'alaikum wr. wb.

Sudah hampir seminggu ini ayah saya umur +/- 69 tahun mengalami penurunan daya ingat. Kadang menaruh sesuatu beberapa waktu kemudian beliau tidak ingat, pekerjaan yang biasa beliau lakukan setiap hari sekarang tidak dikerjakan, seperti lupa mengunci pintu kalo malam hari, lupa mematikan lampu ruang tamu, bahkan beliau sekarang sering ketinggalan sholat, biasanya sebelum iqomat beliau sudah datang ke masjid, tp sekarang sudah iqomat beliau baru mengambil air wudlu, dan datang ke masjid biasanya hanya dapat rokaat terakhir. Untuk itu ibu selalu mengingatkan beliau kalo sudah adzan sholat

Bapak senang membaca, beliau sampai sekarang masih mengisi khotbah tiap jumat dan mengajarkan kitab untuk siswa madrasah diniyyah kalo malam hari.Tapi beliau sekarang juga senang tidur sekitar waktu dhuha, sehabis sarapan beliau kadang duduk2 di ruang tamu sambil baca koran, kalo sudah capek atau tidak ada kegiatan yang lain beliau tertidur di kursi, setelah itu kadang beliau pindah ke kamar tidur, bangun sebelum dhuhur. Dan setiap beliau bangun tidur beliau selalu keliatan bingung, dan seperti pikirannya kosong.

Kalo makan belaiu tidak sulit, dan senang makan sambal. selain itu beliau juga makan kurma nabi atau kurma madu, katanya dapat menhambat amnesia (saya baca di selebaran dalam paketan kurma tsb). tapi beliau sekarang sudah jarang sekali olah raga (jalan2 pagi).

Apa yang terjadi pada ayah saya dok? Apakah sudah mengalami kepikunan?? Mohon saran makanan2 atau kegiatan apa saja yang bisa menghambat sifat pelupa ayah saya??

Terimakasih,

Wassalamualaikum wr. wb.

Yazz

YZ

Jawaban

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Lanjut Usia (Lansia) tidak identik dengan pikun dan perlu diketahui bahwa pikun bukanlah hal yang normal pada proses penuaan. Lansia dapat hidup normal tanpa mengalami berbagai gangguan memori dan perubahan tingkah laku seperti yang dialami oleh Lansia dengan demensia. Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapa saja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003).

Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Gejala Demensia

Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.

Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.

Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.

Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.

Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).

Melihat gejala yang Sdr sebutkan, kemungkinan besar Bapak Sdr sudah mulai terkena dimensia ringan, dan sebaiknya keadaan ini cepat diatasi agar tidak berlanjut menjadi lebih berat. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya :
1. Beri makan otak
Sinaps adalah bagian yang menghubungkan neuron otak dan penting untuk belajar serta mengingat. Untuk menyehatkan bagian ini, makan banyak-banyak ikan salmon, teh pegagan, tempe, susu kedelai, buah kiwi dan semua makanan yang mengandung asam lemak omega-3. Madu dan kurma sebaiknya tetap diteruskan. Tidur miring ke kanan, memperpanjang sujud diharapkan akan meningkatkan aliran darah ke otak. Menghindari makanan yang mengandung lemak jahat, seperti santan, gorengan dan jung food.
2. Lakukan olahraga
Olahraga bisa meningkatkan daya ingat, berpikir lebih jernih dan mengurangi risiko penyakit kognitif. Sebab olahraga akan mengurangi tekanan pada tubuh, memompa energi lebih banyak ke otak. Aktivitas ini juga memicu pelepasan bahan kimia yang menguatkan neuron. Cukup setengah saja setiap hari. Jangan lupa lakukan peregangan otot.
Kebisaan tidur selepas sholat subuh sebaiknya diganti dengan olahraga santai seperti berjalan – jalan.
3. Olah otak
Tetap melakukan aktivitas yang menggunakan otak, seperti mengajar, dan berorganisasi dan lainnya.
4. Dukungan keluarga
Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia, Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman.
5. Istirahat Otak
Walau otak kita genius, kalau dipakai terus juga akan lelah. Maka beri istirahat agar kelak bisa bekerja lebih baik lagi. Sebuah studi mengatakan, tidur 90 menit di siang hari bisa membantu kinerja otak. Cara lainnya adalah dengan melakukan refresing dan bercanda serta sering tersenyum.
6. Berkonsultasi dengan dokter
Melakukan pemeriksaan medis sangat membantu untuk mengetahui faktor yang memperberat pikun, dan diharapkan jika hal tersebut di atasi maka akan mencegah kepikunan.

Wassalam.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Sie sind Spam leid? Yahoo! Mail verfügt über einen herausragenden Schutz gegen Massenmails.
http://mail.yahoo.com

Comments

Popular posts from this blog

Hitung-hitungan Kalori

Kesempatan kuliah online di Al Madinah International University

Alternatif Membuka Website Yang Diblokir