Posts

10 Kiat Menjadi Juara Belajar

Ada beberapa kiat menjadi juara belajar, berikut rangkuman kiat-kiatnya : Berdoa pada Allah atas usaha yang dilakukan, mohon berkah dari Allah agar apa yang dilakukan mendapat ridho, terutama pada orang tua, harus selalu minta doa restu. Menekankan pada diri kita untuk rajin mengulang materi yang diajarkan guru dan membaca buku-buku untuk sampingan pengetahuan umum. Sediakan waktu luang untuk santai guna memberi kesempatan pada otak untuk istirahat dan rileks, membaca buku ringan, nonton, rekreasi atau berinteraksi pada teman-teman tidak boleh dilupakan. Saat ulangan tetap percaya diri, tidak usah terburu-buru keluar kelas sekalipun semua jawaban sudah diselesaikan. Tanamkan dalam diri bahwa belajar adalah suatu kewajiban, sebab dengan belajar kita bisa mengembangkan diri. Jangan pernah menyesali kebodohan, yang benar adalah berusaha untuk pintar dengan rajin belajar. Miliki motivasi diri yang kuat, bahwa keberhasilan itu sesuatu yang membahagiakan, untuk meraihnya harus belajar deng...

Mempertajam Tawakal

Mempertajam Tawakal Posted By Rikza Maulan, M.Ag On 19 April 2008 @ 21:36 In Syarah Hadits   dakwatuna.com - Dari Umar bin Khattab r.a. berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah swt. dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah swt.), sebagaimana seekor burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah) Sekilas tentang Hadits Hadits ini merupakan hadits marfu' dari Umar bin Khattab r.a., yang diriwayatkan melalui jalur sanad Abdullah bin Hubairah, dari Abu Tamim Al-Jaisyani, dari Umar bin Khattab, dari Rasulullah saw., diriwayatkan oleh: Imam Turmudzi dalam Sunan/ Jami'nya, Kitab Al-Zuhud An Rasulillah saw., Bab Fi Attawakkal Alallahi , hadits no 2344. Imam Ibnu Majah dalam sunnannya, Kitab Al-Zuhud, Bab Attawakkal Wal Yaqin , hadits no 4164. Imam...

Zalimnya Pemerintahan Ini

Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan. Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?" tanya saya. Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya." Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan,katanya, pemerintah akan mencabut subsidi...

Lorong Gelap Dunia Wilders

Oleh : Haedar Nashir Geert Wilders bukan hanya pongah dan naif. Politikus ultrakanan Belanda itu sungguh telah menyemburkan atmosfir kebencian terhadap 1,3 miliar umat Islam sedunia. Ini terkait film Fitna yang diproduksinya telah memfitnah Alquran sebagai kitab fasis sebanding Mein Kampt-nya Hitler, seraya menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai barbar. Banyak pihak yang juga dibuat tidak nyaman dengan karya provokatif Wilders yang bombastis itu. Siapa yang sebenarnya fasis dan barbar? Boleh jadi, Wilders-lah sang fasis dan barbar itu. Karena, sedemikian vulgar mengekspresikan kebencian terhadap Islam, nyaris tanpa keadaban. Bagaimana mungkin di sebuah zaman modern ketika nilai-nilai penghormatan terhadap keyakinan siapa pun sangat dijunjung tinggi, malah lahir pikiran naif penuh kebencian sebagaimana diperagakan Wilders? Dengan jaminan kebebasan yang liar, tidak mengherankan jika pemerintah di negeri-negeri yang mengaku berperadaban modern itu selalu berkelit...

Al Ghazali : Al-Quran vs Akal

"Perumpamaan akal adalah laksana penglihatan yang sehat dan tidak cacat. Sedangkan perumpamaan Al-Qur'an adalah seperti matahari yang cahayanya tersebar merata, hingga memberi kemudahan bagi para pencari petunjuk. Amatlah bodoh jika seseorang mengabaikan salah satunya. Orang yang menolak akal dan merasa cukup dengan petunjuk Al-Qur'an, seperti orang yang mencari cahaya matahari tapi memejamkan matanya. Maka orang ini tidak ada bedanya dengan orang buta. Akal bersama wahyu adalah cahaya di atas cahaya. Sedangkan orang yang memperhatikan pada salah satunya saja dengan mata sebelah ( picak , red), niscaya akan terperdaya".

Kehidupan malam

Dunia malam bagai pisau bermata dua. Dunia yang satu ini memiliki kekuatan dan beribu misteri. Pertarungan kebaikan dan kesesatan, haq dan bathil sepanjang siang hari sangatlah dahsyat. Pertarungan yang membutuhkan energi yang tidak sedikit. Masing-masing pembela kebenaran dan kesesatan menumpahkan segala daya kemampuan yang dimilikinya. Ternyata malam lah yang menjadi pusat penghasil energi dan pengumpulnya. Kedua kekuatan yang bertolak belakang hingga hari akhir itu, masing-masing menggunakan jeda malam untuk mengumpulkan tenaga. Untuk bertarung meraih pendukung di esok hari. Tentu kita ingin meniru dunia malam orang-orang sholeh. Karena kita ingin sholeh dan baik seperti mereka. Kita ingin merenda malam kita yang banyak terkoyak oleh aktifitas yang tidak berguna atau bahkan membahayakan. Padahal malam adalah ghonimah cuma-cuma yang disediakan untuk kita. Kita ingin merasakan hakekat kenikmatan dunia yang maya ini sebagaimana mereka telah merasakan kenikmatan itu. Tetapi tidak ...

Apa Rahasia Allah Memberi Garis Tangan yang Berbeda-Beda?

Selasa, 11 Jul 06 13:06 WIB Kirim teman Assalamualaikum wr. wb. Ustaz, saya memiliki rasa ingin tahu yang terkadang sulit sekali mendapatkan jawaban-jawaban, walau terkadang pertanyaan itu sepele sekali. Seperti pertanyaan mengapa Allah memberikan garis tangan yang selalu berbeda pada setiap manusia? Kita mengetahui bahwa banyak sekali orang-orang yang mengaku memiliki kemampuan untuk menerjemahkan garis tangan tersebut. Yang membuat saya bingung, apakah saya harus mempercayai mereka? Apakah Allah memberikan mereka kemampuan untuk memahami hal seperti ini? Apakah ada cerita di zaman Rasul yang berkaitan dengan hal seperti ini? Terimakasih Ustaz, semoga Allah yang membalas kebaikan anda. Assalamualaikum, Guntur Darja Wijaya guntur_bes Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Dalam aqidah Islam, garis tangan itu tidak ada kaitannya denga nnasib dan masa depan seseorang. Kalau ada orang yang mengaku bisa membacanya, ketahuilah bahwa orang itu sedang melakuk...